watch

Kamis, 17 Februari 2011

Analisis Materi Ajar Kimia MA Darul Mursyid

BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang Masalah
Sebagai konsekuensi atas terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional, telah menerbitkan berbagai peraturan agar penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) paling tidak dapat memenuhi standar minimal tertentu. Berbagai standar tersebut adalah: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.
Dalam pencapaian standar isi (SI) yang memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melalui pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu, sehingga pada gilirannya mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) setelah menyelesaikan pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu secara tuntas. Agar peserta didik dapat mencapai SK, KD, maupun SKL yang diharapkan, perlu didukung oleh berbagai standar lainnya, antara lain standar proses dan standar pendidik dan tenaga kependidikan.
Dalam PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas malalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan demikian, guru diharapkan untuk mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar.
Untuk membantu siswa mempelajari konsep-konsp kimia, sangat penting menggunakan perangkat belajar. Penggunaaan perangkat dapat memudahkan siswa memahami konsep itu. Selain pemahaman konsep, pembelajaran kimia memerlukan kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis dapat diberdayakan dan dibagun melalui pembelajaran di sekolah dengan mempergunakan bahan ajar secara optimal.
Pengetahuan kimia terdiri antara lain dari konsep-konsep. Konsep-konsep dalam ilmu kimia ada yang berupa konsep-konsep konkret yaitu konsep yang dibangun dari objek yang teramati, dan konsep-konsep abstrak yaitu konsep-konsep yang dibangun berdasarkan logika, imaginasi (Scerri. 2003) dan teori-teori  berdasarkan hal-hal yang teramati (Eddy. 2000, Goh Ngoh, Chia Lian. 2002, Hoon Tien dan Goh Ngoh. 2002, Nakleh.1993,  Bunce. 2001). Untuk menentukan apakah suatu konsep adalah konsep konkret atau abstrak, konsep terlebih dahulu harus didefinisikan (Carin, 1985). Pernyataan ini memberi makna bahwa suatu konsep kimia dapat berupa konsep konkret dan atau konsep abstrak, tergantung pada definisi dari konsep tersebut. Oleh sebab itu sebelum membelajarkan konsep-konsep kimia, konsep-konsep terlebih dahulu harus didefinisikan. Hal ini akan membantu guru memilih strategi dan perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam proses membelajarkan siswa.
Terkait dengan hal ini maka tujuan penulisan mini riset ini adalah meningkatkan kemampuan siswa memahami konsep-konsep kimia dengan memberdayakan dan membangun kemampuan berfikir kritis siswa melalui penggunaan bahan ajar secara optimal. Perangkat pembelajaran disesuaikan dengan pemilihan strategi pembelajaran yang dapat melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran, pembelajaran berpusat pada siswa dan melatih serta membangun kemampuan berpikir kritis, dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan guru yang dikembangkan melalui bahan ajar. Atas dasar tersebut mini riset ini diarahkan pada “Analisis Bahan Ajar dan Strategi Pembelajaran Kimia MA Darul Mursyid Dengan studi kasus pada perangkat bahan ajar berupa VCD Konten, LKS siswa dan Buku Petunjuk Guru.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalahnyua adalah Apakah perangkat pembelajaran bahan ajar VCD Konten, LKS siswa dan  buku petunjuk guru secara optimal mampu menghasilkan strategi pembelajaran yang akan meningkatkan daya berpikir kritis siswa MA Darul Mursyid.



C.  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari mini riset ini adalah untuk mengetahui apakah perangkat pembelajaran bahan ajar VCD Konten, LKS siswa dan  buku petunjuk guru secara optimal mampu menghasilkan strategi pembelajaran yang akan meningkatkan daya berpikir kritis siswa MA Darul Mursyid.
Mini riset ini diharapkan memiliki nilai guna bagi guru, siswa dan sekolah dalam mengembangkan bahan ajar yang mampu mengembangkan strategi pembelajaran yang akan dapat meningkatkan data berpikir kritis siswa.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.   Pengertian Bahan Ajar
Guna menghasilkan tamatan yang mempunyai  kemampuan sesuai standard kompetensi lulusan, diperlukan pengembangan pembelajaran untuk setiap kompetensi secara sistematis, terpadu, dan tuntas (mastery learning).
Pada pendidikan menengah umum, di samping buku-buku teks, juga dikenalkan adanya lembar-lembar pembelajaran (instructional sheet) dengan nama yang bermacam-macam, antara lain: lembar tugas (job sheet), lembar kerja (work sheet), lembar informasi (information sheet) dan bahan ajar lainnya baik cetak maupun non-cetak. Semua bahan yang digunakan untuk mendukung proses belajar itu disebut sebagai bahan ajar (teaching material).
Terdapat dua istilah yang sering digunakan untuk maksud yang sama namun sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda, yakni sumber belajar dan bahan ajar. Untuk itu, maka berikut ini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang pengertian sumber belajar dan bahan ajar.
1.    Pengertian Sumber Belajar
Sering kita dengar istilah sumber belajar (learning resource), orang juga banyak yang telah memanfaatkan sumber belajar, namun umumnya yang diketahui hanya perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar. Padahal secara tidak terasa  apa yang mereka gunakan, orang, dan benda tertentu adalah termasuk sumber belajar.  
Sumber belajar dalam website bced didefinisikan sebagai berikut: Learning resources are defined as information, represented and stored in a variety of media and formats, that assists student learning as defined by provincial or local curricula. This includes but is not limited to, materials in print, video, and software formats, as well as combinations of these formats intended for use by teachers and students. http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/ asleares.htm January 28, 1999.
Sadiman mendefinisikan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda, pesan, bahan, teknik, dan latar (Sadiman, Arief S., Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pembelajaran, makalah, 2004)
Menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber belajar adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran.
Dengan demikian maka  sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku. 

Dari pengertian tersebut maka sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut:
a.     Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan dan lain sebagainya.
b.     Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya.
c.     Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana peserta didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya guru, ahli geologi, polisi, dan ahli-ahli lainnya.
d.     Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman elektronik, web, dll yang dapat digunakan untuk belajar.
e.     Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, fiksi dan lain sebagainya.
f.        Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang guru
dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.
Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Jika tidak maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang, dan atau buku hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yang tidak ada artinya apa-apa.
2.    Pengertian Bahan Ajar
Dari uraian tentang pengertian sumber belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan.  
Menurut University of Wollongong NSW 2522, AUSTRALIA  pada website-nya, WebPage last updated: August 2008, Teaching is defined as the process of creating and sustaining an effective environment for learning.
Melaksanakan pembelajaran diartikan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suatu lingkungan belajar yang efektif.
 
 
Paul S. Ache lebih lanjut mengemukakan tentang material yaitu:
Books can be used as reference material, or they can be used as paper weights, but they cannot teach.
Buku dapat digunakan sebagai bahan rujukan, atau dapat digunakan sebagai bahan tertulis yang berbobot.
Dalam website Dikmenjur dikemukakan pengertian bahwa, bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau KD secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.
Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:
a.     Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.
b.     Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
c.     Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.



Pendapat lain mengatakan sebagai berikut;
Definition of teaching material
They are the information, equipment and text for instructors that are     required for planning and review  upon training implementation.  Text and training equipment are included in the teaching material.( Anonim dalam Web-site)
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.  Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training).
Pengelompokan bahan  ajar menurut Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université de Genève dalam website adalah sebagai berikut :
Media tulis, audio visual, elektronik, dan interaktif  terintegrasi  yang kemudian disebut sebagai medienverbund (bahasa jerman yang berarti media terintegrasi) atau mediamix. 
Sedangkan Bernd Weidenmann, 1994 dalam bukunya mengelompokkan menjadi tiga besar, pertama auditiv yang menyangkut radio, kaset, piringan hitam. Kedua yaitu visual yang menyangkut gambar, film bisu , video bisu, program komputer, bahan tertulis dengan dan tanpa gambar.  Ketiga yaitu audio visual yang menyangkut berbicara dengan gambar, pertunjukan suara dan gambar, dan film/video.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disarikan bahwa bahan ajar adalah merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.  
Sebuah bahan ajar paling tidak  mencakup antara lain :
a.     Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
b.     Kompetensi yang akan dicapai
c.     Content atau isi  materi pembelajaran
d.     Informasi pendukung
e.     Latihan-latihan
f.        Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
g.     Evaluasi
h.     Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi

B.    Mengapa guru perlu mengembangkan Bahan Ajar?
Terdapat sejumlah alasan, mengapa guru perlu untuk mengembangkan bahan ajar, yakni antara lain; ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum,  karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah belajar. Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Pada kurikukulum tingkat satuan pendidikan, standard kompetensi lulusan telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana untuk mencapainya dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya kepada para pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru dituntut untuk mempunyai kemampuan mengembangkan bahan ajar sendiri. Pertimbangan lain adalah karakteristik sasaran. Bahan ajar yang dikembangkan orang lain seringkali tidak cocok untuk siswa kita. Ada sejumlah alasan ketidakcocokan, misalnya, lingkungan sosial, geografis, budaya, dll. Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik sasaran. Selain lingkungan sosial, budaya, dan geografis, karakteristik sasaran juga mencakup tahapan perkembangan siswa, kemampuan awal yang telah dikuasai, minat, latar belakang keluarga dll. Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa sebagai sasaran.
Selanjutnya, pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah ataupun kesulitan dalam belajar. Terdapat sejumlah materi pembelajaran yang seringkali siswa sulit untuk memahaminya ataupun guru sulit untuk menjelaskannya. Kesulitan tersebut dapat saja terjadi karena materi tersebut abstrak, rumit, asing, dsb. Untuk mengatasi kesulitan ini maka perlu dikembangkan bahan ajar yang tepat. Apabila materi pembelajaran yang akan disampaikan bersifat abstrak, maka bahan ajar harus mampu membantu siswa menggambarkan sesuatu yang abstrak gersebut, misalnya dengan penggunaan gambar, foto, bagan, skema, dll. Demikian pula materi yang rumit, harus dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat berfikir siswa, sehingga menjadi lebih mudah dipahami.
C.  Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar
1.    Tujuan
Bahan ajar disusun dengan tujuan:
a.     Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa.
b.     Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.
c.     Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
2.    Manfaat
Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh apabila seorang guru mengembangkan bahan ajar sendiri, yakni antara lain; pertama, diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, kedua, tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh, ketiga, bahan ajar menjadi labih kaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi, keempat, menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar, kelima, bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya kepada gurunya.

Di samping itu, guru juga dapat memperoleh manfaat lain, misalnya tulisan tersebut dapat diajukan untuk menambah angka kredit ataupun dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.
Dengan tersedianya bahan ajar yang bervariasi, maka siswa akan mendapatkan manfaat yaitu, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.  Siswa akan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru.  Siswa juga akan mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya.
D.   Prinsip Pengembangan Bahan Ajar
Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsisp-prinsip pembelajaran. Di antara prinsip pembelajaran tersebut adalah:
Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak,
Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep tertentu apabila penjelasan dimulai dari yang mudah atau sesuatu yang kongkret, sesuatu yang nyata ada di lingkungan mereka. Misalnya untuk menjelaskan konsep pasar, maka mulailah siswa diajak untuk berbicara tentang pasar yang terdapat di tempat mereka tinggal. Setelah itu, kita bisa membawa mereka untuk berbicara tentang berbagai jenis pasar lainnya.
Pengulangan akan memperkuat pemahaman
Dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan agar siswa lebih memahami suatu konsep. Dalam prinsip ini kita sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa 5 x 2 lebih baik daripada 2 x 5. Artinya, walaupun maksudnya sama, sesuatu informasi yang diulang-ulang, akan lebih berbekas pada ingatan siswa. Namun pengulangan dalam penulisan bahan belajar harus disajikan secara tepat dan bervariasi sehingga tidak membosankan.
Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa
Seringkali kita menganggap enteng dengan memberikan respond yang sekedarnya atas hasil kerja siswa. Padahal respond yang diberikan oleh guru terhadap siswa akan menjadi penguatan pada diri siswa. Perkataan seorang guru seperti ’ya benar’ atau ‚’ya kamu pintar’ atau,’itu benar, namun akan lebih baik kalau begini...’ akan menimbulkan kepercayaan diri pada siswa bahwa ia telah menjawab atau mengerjakan sesuatu dengan benar. Sebaliknya, respond negatif akan mematahkan semangat siswa. Untuk itu, jangan lupa berikan umpan balik yang positif terhadap hasil kerja siswa.
Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar
Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih berhasil dalam belajar. Untuk itu, maka salah satu tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah memberikan dorongan (motivasi) agar siswa mau belajar. Banyak cara untuk memberikan motivasi, antara lain dengan memberikan pujian, memberikan harapan, menjelas tujuan dan manfaat, memberi contoh, ataupun menceritakan sesuatu yang membuat siswa senang belajar, dll.
Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu.
Pembelajaran adalah suatu proses yang bertahap dan berkelanjutan. Untuk mencapai suatu standard kompetensi yang tinggi, perlu dibuatkan tujuan-tujuan antara. Ibarat anak tangga, semakin lebar anak tangga semakin sulit kita melangkah, namun juga anak tangga yang terlalu kecil terlampau mudah melewatinya. Untuk itu, maka guru perlu menyusun anak tangga tujuan pembelajaran secara pas, sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam bahan ajar, anak tangga tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator kompetensi.
E.    Jenis Bahan Ajar
Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.  Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti  video compact disk, film.  Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material)  seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajarn interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

Selanjutnya pada mini riset ini hanya akan dibahas tentang bahan ajar berupa VCD Konten, LKS Siswa dan Buku Petunjuk Guru.
1.      Bahan Ajar VCD Konten
VCD yang akan dikembangkan yaitu VCD yang berisi konten konsep-konsep isi VCD ini diupayakan dapat menggambarkan konsep-konsep yang abstrak. Penggambaran, ukuran dan pemilihan warna menuruti aturan yang berlaku dalam ilmu kimia dan disertai penjelasan umum. Gambar yang terdapat dalam VCD diupayakan dapat berputar, sehingga dapat memberi gambaran pada siswa mengenai gambar pada tampak muka, samping dan belakang. Arah pemutaran gambar mengikuti kaidah yang berlaku dalam ilmu kimia. Untuk menyenangkan siswa, penggambaran dan pemunculan gambar selain diiringan dengan penjelasan umum, juga diiringi dengan alunan musik instrument yang volumenya disesuaikan dengan penjelasan yang sedang diberikan, sehingga tidak saling mengganggu dan tetap menimbulkan efek yang maksimal. Volume alunan musik akan melemah jika sedang ada penjelasan umum, dan volume alunan musik sedikit menguat jika penjelasan umum sedang dalam tahap jeda.
2. Lembar kegiatan siswa
Lembar kegiatan siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.  Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas.  Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas KD yang akan dicapainya.  Lembar kegiatan dapat digunakan untuk mata pembelajaran apa saja.  Tugas-tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya.   Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa  teoritis dan atau tugas-tugas praktis.   Tugas teoritis misalnya tugas membaca sebuah artikel tertentu, kemudian membuat resume untuk dipresentasikan.  Sedangkan tugas praktis dapat berupa kerja laboratorium atau kerja lapangan, misalnya survey tentang harga cabe dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat.  Keuntungan adanya lembar kegiatan adalah bagi guru, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis. 
Dalam menyiapkannya guru harus cermat dan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, karena sebuah lembar kerja harus memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai/ tidaknya sebuah KD dikuasai oleh peserta didik.
                 LKS disusun dan disesuaikan dengan strategi pembelajaran yang digunakan. Isi LKS terdiri dari: 1) guru menyajikan masalah umum kepada siswa, 2) guru mendiskusikan masalah umum tersebut pada siswa dan membimbing siswa untuk merumuskan masalah-masalah khusus, 3) setelah masalah khusus dirumuskan, guru membimbing siswa untuk merumuskan hipotesis terkait dengan rumusan masalah khusus yang telah dirumuskan, 4) membimbing siswa untuk melakukan percobaan di laboratorium. Pada kegiatan ini guru menyediakan alat dan bahan, dan prosedur kegiatan di laboratorium, 5) membimbing siswa bekerja di laboratorium, melakukan pengamatan dan membuat kesimpulan, 6) guru memberikan masalah-masalah pengembangan untuk dipecahkan oleh siswa melalui deduksi, induksi, argument dan pembuatan keputusan. Peran VCD tipe kedua pada kegiatan yang terdapat dalam LKS diutamakan untuk kegiatan pada tahap pengamatan dan pembuatan kesimpulan serta masalah-masalah pengembangan untuk dipecahkan melalui deduksi, induksi, argument dan pembuatan keputusan.
3. Buku Pengangan Guru
Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi.   Menurut kamus oxford hal 94, buku diartikan sebagai: Book  is number of sheet of paper, either printed or blank, fastened  together in a cover. Buku adalah sejumlah lembaran kertas baik cetakan maupun kosong yang dijilid dan diberi kulit. Buku sebagai bahan ajar merupakan  buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis.
Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi dengan gambar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisannya.  Buku pelajaran berisi tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk belajar, buku fiksi akan berisi tentang fikiran-fikiran fiksi si penulis, dan seterusnya.
                 Buku pegangan guru berisi skenario pembelajaran yang menunjukkan tahap-tahap kegiatan pembelajaran, membimbing guru membelajarkan siswa dengan strategi yang telah ditetapkan, menggunakan LKS dan VCD pembelajaran.
Langkah-Langkah Pembelajaran
1.       Guru menyajikan masalah umum berupa pertanyaan atau pernyataan yang membangkitkan keingintahuan siswa dan membimbing siswa untuk  memerinci umum tersebut dalam rumusan yang lebih khusus.
2.       Guru membimbing siswa untuk membuat hipotesis berdasarkan rumusan masalah khusus yang telah dirumuskan.
3.       Guru menanyakan kepada siswa hal-hal yang mungkin akan dilakukan siswa dengan adanya masalah yang telah diuraikan pada langkah pertama, dan membimbing siswa untuk menentukan alat, bahan dan prosedur kerja yang akan digunakan dalam percobaan di laboratorium.
4.       Guru membantu siswa merumuskan pertanyaan yang spesifik dan terfokus untuk membantu siswa mengumpulkan data.
5.       Guru memberikan suatu rencana kerja yang tertulis dalam LKS
6.       Siswa melaksanakan kegiatan kerja dengan bantuan dan bimbingan guru
7.       Siswa mengumpulkan data dengan bantuan dan bimbingan guru.
8.       Siswa membuat kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dengan bantuan dan bimbingan guru.
9.       Guru menyajikan VCD pertama pada siswa, untuk memperkuat pemahaman mereka.
Bimbingan dan bantuan diberikan guru dalam bentuk pertanyan-pertanyaan yang akan mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
PENELITIAN SEBELUMNYA
Berbagai perangkat pembelajaran dan penelitian yang terkait dengan pengembangan perangkat pembelajaran, telah dikembangkan dan dilakukan oleh anggota TPM Dr. Punaji Setyosari, M.Ed. Penelitian yang telah dilakukan adalah “Efektivitas Implementasi Sistem OnLine-Learning Dalam Mata Kuliah Manajemen Sistim Informasi (Msi) di Jurusan Tep FIP-UM (Penelitian Tindakan kelas)”, 2005.  Sedangkan berbagai buku, bahan ajar, diktat/modul yang telah ditulis dan dikembangkan adalah:
1.      Pengantar Komunikasi Pendidikan  (IKIP Malang), 1994.                                  
2.      Manajemen Kelas (FIP IKIP Malang), 1998.
3.      Pendekatan-Pendekatan Manajemen Kelas, 1998.            
4.      Psikologi Orang Dewasa (Diktat Kuliah) untuk Mahasiswa, 1999.               
5.      Rancangan Pembelajaran. ISBN 979-95501-8-1.  (Elang Mas, Malang), 2001.
6.      Rancangan Sistem Pembelajaran.  ISBN 979-3103-08-6(Elang Mas,Malang), 2003.           
7.      Media Pembelajaran. ISBN 979-3103-21-3 (Elang Mas, Malang), 2005.
8.      Teori Praktek Rancangan Sistem Pembelajaran.  ISBN  979-25-0910-0 (Lab. Teknologi Pendidikan,UM), 2005.                                                                       
9.      Belajar melalui Sistem On-line (draft cetak, FIP UM), 2006.                             
Perangkat-perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan oleh TPP adalah perangkat pembelajaran kimia SMA berbasis non elektronik dan elektronik, namun belum mengacu pada teori-teori pengujian yang dianjurkan ahli pengembangan, sedangkan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan oleh TPM adalah perangkat pembelajaran berbasis elektronik dan non elektronik serta mengacu pada teori-teori pengembangan dan teori-teori pengujian seperti yang dianjurkan para ahli pengembangan, sampai diperoleh hasil akhir perangkat pengembangan yang siap untuk digunakan. Berdasarkan hasil yang telah dilakukan, perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan layak untuk digunakan dalam membelajarkan pengetahuan kimia.
Perangkat-perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan oleh TPP dan ketua TPM seluruhnya adalah perangkat pembelajaran kimia kelas X SMA, walaupun ada dari perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan adalah untuk kimia SMA kelas X semester genap dan kelas XII sedangkan yang ingin dikembangkan pada penelitian ini adalah kimia SMA kelas X semester ganjil. Semua ini dapat membantu, mengarahkan dan membimbing serta memberi pengalaman untuk mengembangkan perangkat pembelajaran seperti yang akan dilakukan pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh TPP dan TPM. Demikian pula dengan sarana pembelajaran yang telah dikembangkan oleh anggota TPM, walaupun tidak khusus untuk mata pelajaran kimia SMA, namun ilmu dan pengalaman yang dimiliki oleh anggota TPM dapat membantu dan mengarahkan dalam pengembangan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan teori-teori pengembangan dan teori-teori pengujian perangkat pengembangan, sehingga diharapkan dapat dihasilkan perangkat pembelajaran ilmu kimia yang layak untuk digunakan.

BAB III
METODOLOGI MINI RISET

A. Pengembangan Strategi Pembelajaran dan Perangkat Bahan Ajar
Model pengembangan yang digunakan untuk menghasilkan produk strategi pembelajaran dan perangkat pembelajaran bahan ajar, diadaptasi dari Dick dan Carey (1990), dengan langkah-langkah: 1) Menentukan tujuan pembelajaran. 2) Menganalisis tujuan pembelajaran. 3) Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik pebelajar (siswa). 4) Merumuskan tujuan pembelajaran khusus. 5) Mengembangkan alat ukur hasil pembelajaran. 6) Mengembangkan strategi pembelajaran. 7) Memilih dan mengembangkan perangkat pembelajaran. 8) Merancang dan melakukan penilaian formatif. 9) Merevisi.
Pengembangan perangkat bahan ajar ini dibagi dalam 4 (empat) langkah: 1) penetapan materi pembelajaran dan standar kompetensi yang akan dicapai siswa. 2) menganalisis kebutuhan. 3) Pengembangan perangkat pembelajaran. 4) uji coba perangkat pembelajaran.
B. Subyek Uji Coba
Subyek uji coba adalah ahli bidang studi pendidikan kimia dan ahli teknologi pembelajaran, guru-guru bidang studi pendidikan kimia sejumlah 3 orang dari MA Darul Mursyid  kec. Saipar Dolok Hole Kab. Tapanuli Selatan
C. Prosedur Analisis
Tahap Analisis terdiri dari 5 (lima) tahap, yaitu:
  1. Tahap penetapan materi pelajaran dan standar kompetensi
  2. Tahap analisis kebutuhan
  3. Tahap pengembangan strategi dan perangkat pembelajaran
  4. Menyusun dan menulis perangkat pembelajaran
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS MINI RISET
Pada penelitian ini dilakukan pengembangan bahan ajar dengan mengadaptasi model dari Dick dan Carey meliputi tahapan yaitu 1)  Analisis Kebutuhan; 2) Menentukan Konten Pembelajaran yang akan dikembangkan; 3) Analisis Pengembangan Perangkat Pembelajaran Bahan Ajar meliputi: analisis tujuan pembelajaran, mengidentifikasi karakteristik siswa, merumuskan TKP, mengembangkan butir tes, mengembangkan strategi pembelajaran; sehingga diperoleh optimalisasi bahan ajar.
1.  Analisis Kebutuhan
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara  dengan guru-guru dan siswa-siswa dari  MA Darul Mursyid mengenai kebutuhan guru kimia dan siswa SMA kelas X mengenai bahan ajar yang dapat digunakan sebagai pegangan guru untuk membelajarkan siswa kelas X diperoleh data kualititatif berupa persentase dari aspek kebutuhan guru kimia pada buku-buku pegangan guru dan sumber belajar lain selain buku pegangan dapat ditujukkan pada Tabel 1 dan 2, serta Gambar 4.1 dan 4.2 seperti di bawah ini:Tabel 1. Persentase Kebutuhan Guru Kimia Terhadap Buku Pegangan
No.
Indikator
Skor
Jumlah skor
Persen-tase (%)
4
3
2
1
1
Apa isi buku mencapai seluruh kompetensi dasar?
2
1
0
0
11
22
2
Apa isi buku membelajarkan konsep kimia?
0
2
1
0
8
16
3
Apa isi buku membantu memahami konsep mikroskopik?
o
2
1
0
8
16
4
Apa gambar dalam buku membantu membelajarkan konsep mikroskopik?
0
2
1
0
8
16
5
Apa isi buku membelajarkan konsep kimia dengan contoh?
0
0
0
3
3
6
6
Apa contoh dalam buku membantu membelajarkan konsep kimia mikroskopik?
0
2
1
0
8
16
7
Apa buku memberi peluang untuk melibatkan siswa aktif?
1
2
0
0
10
20
   Gambar 4.3. Kebutuhan dan kesulitan siswa pada aspek buku pegangan
Keterangan:
1.      Pendapat siswa mengenai buku kimia yang dipakai.
2.      Siswa menyukai pelajaran kimia.
3.      Isi buku membelajarkan konsep kimia.
4.      Isi buku membantu memahami konsep mikroskopik.
5.      Siswa menyukai penyajian konsep kimia dengan gambar.
6.      Gambar dalam buku membantu membelajarkan konsep mikroskopik.
7.      Isi buku membelajarkan konsep kimia dengan contoh untuk memahami kimia mikroskopik.

Tabel 4. Persentase kebutuhan dan kesulitan Siswa  Sumber Belajar Selain Buku Pegangan.
No.
Indikator
Skor
Jumlah skor
Persen-
tase (%)
4
3
2
1
1
Apa anda membutuhkan sumber belajar lain untuk memahami konsep kimia mikroskopik?
12
10
3
10
94
18,8
2
Apa anda menyukai penjelasan konsep kimia dilengkapi dengan gambar bergerak/berputar di sekolah?
8
14
6
7
93
18,6
3
Bagaimana ketersediaan sumber belajar berupa gambar bergerak/berputar di sekolah?
2
16
5
12
78
15,6
4
Apa gambar bergerak/berputar membantu anda memahami konsep kimia?
8
15
6
8
101
20,2
5
Apa anda menyukai penyajian konsep kimia disertai penggunaan model kimia?
11
16
4
4
104
20,8
6
Apakah model kimia membantu anda memahami konsep kimia?
8
13
8
6
93
18,6
7
Bagaimana ketersediaan sumber belajar berupa model kimia di sekolah?
7
13
10
5
92
18,4
8
Bagaimana ketersediaan lingkungan belajar yang dapat digunakan sebagai sumber belajar kimia?
5
16
8
6
90
18
9
Apa anda menyukai lingkungan belajar tersebut?
5
15
9
6
411
60,4
Tabel 4. Persentase kebutuhan dan kesulitan Siswa  Sumber Belajar Selain Buku Pegangan.
No.
Indikator
Skor
Jumlah skor
Persen-
tase (%)
4
3
2
1
1
Apa anda membutuhkan sumber belajar lain untuk memahami konsep kimia mikroskopik?
12
15
1
7
81
16,2
2
Apa anda menyukai penjelasan konsep kimia dilengkapi dengan gambar bergerak/berputar di sekolah?
9
10
13
3
95
19
3
Bagaimana ketersediaan sumber belajar berupa gambar bergerak/berputar di sekolah?
1
13
15
6
79
15,8
4
Apa gambar bergerak/berputar membantu anda memahami konsep kimia?
8
11
9
7
90
18
5
Apa anda menyukai penyajian konsep kimia disertai penggunaan model kimia?
12
17
4
2
100
25
6
Apakah model kimia membantu anda memahami konsep kimia?
5
15
10
5
90
18
7
Bagaimana ketersediaan sumber belajar berupa model kimia di sekolah?
6
10
10
9
83
16,6
8
Bagaimana ketersediaan lingkungan belajar yang dapat digunakan sebagai sumber belajar kimia?
2
14
4
15
73
14,6
9
Apa anda menyukai lingkungan belajar tersebut?
8
18
5
4
100
25


Gambar 4.4.  Kebutuhan dan kesulitan siswa pada sumber belajar selain buku pegangan
Keterangan
  1. Siswa membutuhkan sumber belajar lain untuk memahami konsep-konsep kimia mikroskopik.
  2. Siswa menyukai penjelasan konsep-konsep kimia dilengkapi dengan gambar-gambar yang bergerak atau berputar.
  3. Ketersediaan sumber belajar berupa gambar-gambar bergerak atau berputar di sekolah.
  4. Gambar bergerak atau berputar membantu anda memahami konsep-konsep kimia.
  5. Siswa menyukai penyajian konsep-konsep kimia disertai penggunaan model-model kimia.
  6. Ketersedian model-model kimia di sekolah untuk memahami konsep-konsep kimia.
  7. Bentuk dan tipe sumber belajar berupa model-model bergerak/berputar yang disukai.
  8. Ketersediaan lingkungan belajar yang dapat digunakan sebagai sumber belajar kimia.
  9. Siswa menyukai lingkungan belajar lain di sekolah
2.    Menentukan konten pembelajaran yang dikembangkan
Konten atau materi bahan ajar, buku pegangan guru dan buku lembar kerja siswa yang dikembangkan adalah materi kimia SMA kelas X meliputi:
Bab 1.  Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit
Bab 2.  Reaksi Oksidasi dan Reduksi
Bab 3.  Kimia Hidrokarbon
3.    Mengembangkan Perangkat Pembelajaran Bahan Ajar
Sebelum menyusun dan menuliskan perangkat pembelajaran, dilakukan identifikasi tujuan pembelajaran, mengidentifikasi karakteristik siswa, mengembangkan butir tes dan mengembangkan strategi pembelajaran.
4.    Menyusun dan Menulis Perangkat Pembelajaran
Dalam menyusun bahan ajar, buku pegangan guru dan buku lembar kerja siswa yang mengadaptasi pada Dick dan Carey ada delapan unsur cakupan yang harus dimuat diantaranya; 1) Petunjuk, 2) Tujuan Pembelajaran, 3) Uraian Isi, 4) Ilustrasi/Gambar, 5) Rangkuman, 6) Soal Latihan, 7) Daftar Bacaan, 8) Kunci Jawaban. 
5.    Analisis Perangkat Bahan Ajar VCD
Produksi bahan ajar, buku pegangan guru, lembar kerja siswa dalam bentuk elektronik berupa VCD pembelajaran dan bukan elektronik berupa bahan ajar, buku pegangan guru dan lembar kerja siswa berupa media cetak
Analisis Kebutuhan Guru dan Siswa
Berdasarkan data hasil angket yang disebarkan pada MA Darul Mursyid dengan subyek penelitian mini riset lima guru dan tiga puluh lima siswa-siswa SMA kelas X di MA Darul Mursyid yang disajikan pada Tabel 1, 2, 3
Berdasarkan persentase tersebut di atas, maka peneliti riset menyimpulkan bahwa bahan ajar kelas X SMA meliputi bahan ajar cetak dan bahan ajar elektronik berupa VCD pembelajaran, dengan konsep sebagai berikut :
1.      Konsep materi bahan ajar
Standar Kompetensi bahan ajar cetak dan elektronik yang dibuat meliputi:
a)    memahami sifat-sifat larutan non elektrolit dan elektrolit, serta reaksi oksidasi-reduksi Kompetensi Dasar
b)    Mengidentifikasi sifat larutan non elektrolit dan elektrolit berdasarkan data hasil percobaan
Indikator 1.
Membuat alat uji daya hantar listrik larutan
Tujuan Pembelajaran khusus : Setelah pembelajaran siswa dapat:
1.      Menjelaskan guna alat uji daya hantar listrik.
2.      Menuliskan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat alat uji daya hantar listrik.
3.      Membuat alat uji daya hantar listrik larutan.
Indikator 2.
1.      Menjelaskan gejala-gejala hantaran arus listrik dalam berbagai larutan berdasarkan hasil pengamatan.
2.      Menggelompokkan larutan ke dalam larutan elektrolit dan non elektrolit berdasarkan sifat hantaran listriknya.
3.      Menyimpulkan penyebab kemampuan larutan elektrolit menghantarkan arus listrik.
Tujuan Pembelajaran khusus
1.      Siswa dapat mengamati gejala-gejala hantaran arus listrik dalam berbagai larutan.
2.      Siswa dapat menjelaskan gejala-gejala hantaran arus listrik dalam berbagai larutan.
3.      Siswa dapat membedakan gejala-gejala hantaran arus listrik dalam berbagai larutan.
4.      Siswa dapat mengelompokkan larutan ke dalam larutan elektrolit dan non elektrolit.
5.      Siswa dapat mengelompokkan larutan ke dalam larutan elektrolit kuat, elektrolit lemah dan non elektrolit.
6.       Siswa dapat menjelaskan perbedaan penyebab kemampuan larutan yaitu elektrolit kuat, elektrolit lemah dan non elektrolit dalam menghantarkan arus listrik. 
Indikator 3
Menjelaskan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa ion dan senyawa kovalen polar.
Tujuan Pembelajaran khusus
Setelah berakhirnya pembelajaran, siswa dapat
1.      Membedakan larutan elektrolit dari senyawa ion dan kovalen polar
2.      Mengelompokkan larutan elektrolit dari senyawa ion
3.      Mengelompokkan larutan elektrolit dari senyawa kovalen polar
4.      Menjelaskan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa ion dan senyawa kovalen polar.
2.      Konsep materi bahan ajar
Standar Kompetensi
Mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran dan terapannya.
Kompetensi Dasar
Menjelaskan perkembangan konsep reaksi oksidasi-reduksi dan hubungannya dengan tatanama senyawa serta penerapannya.
Indikator 1.
1.      Membedakan konsep oksidasi-reduksi ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen, pelepasan dan penerimaan elektron, serta peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi.
2.      Menentukan bilangan oksidasi atom atau unsur dalam senyawa atau ion.
3.      Menetukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah berakhir pembelajaran diharapkan siswa dapat;
1.      Membuktikan dan membedakan konsep oksidasi-reduksi ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen.
2.      Membuktikan dan membedakan konsep oksidasi-reduksi ditinjau dari pelepasan dan penerimaan elektron.
3.      Membuktikan dan membedakan konsep oksidasi-reduksi ditinjau dari peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi
4.      Menuliskan reaksi oksidasi-reduksi ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen.
5.      Menuliskan dan menentukan reaksi oksidasi-reduksi ditinjau dari pelepasan dan penerimaan elektron.
6.      Menuliskan dan menentukan reaksi oksidasi-reduksi ditinjau dari peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi.
7.      Menuliskan dan menentukan bilangan oksidasi dalam senyawa atau ion.
8.      Menuliskan dan menentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks.
Indikator 2
Memberi nama senyawa anorganik menurut pendekatan sistematika pengajaran tata nama senyawa anorganik.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah berakhirnya pembelajaran berakhir diharapkan siswa dapat
1.      Menuliskan nama senyawa anorganik untuk senyawa kation (ion positif) dalam bentuk monoatomik dan poliatomik.
2.      Menuliskan nama senyawa anorganik untuk senyawa anion (ion negatif) dalam bentuk monoatomik, ion oksi mengandung hidrogen, ion oksi mengandung oksigen dan lainnya atau pengecualian.
3.      Menuliskan  nama senyawa anorganik dalam bentuk ion, senyawa mengandung hidrogen (logam-H,  Non Logam-H, ion oksi-H) dan senyawa kovalen (non logam-non logam).
Indikator 3
Menerapkan konsep elektrolit dan konsep redoks dalam memecahkan masalah lingkungan.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah berakhir pembelajaran diharapkan siswa dapat,
1.            Menjelaskan cara pengolahan air diantaranya pemurnian air dan pengolahan air kotor yang ada di lingkungan sekitarnya.
2.            Menerapkan cara pengolahan air jika terjadi pencemaran air di sungai, tanah, danau, waduk, sumber mata air dll. untuk dimanfaatkan dalam kehidupan mahluk hidup
3.      Konsep materi bahan ajar
Standar Kompetensi
Memahami senyawa organik dan makromolekul, menentukan hasil reaksi dan mensintesis makromolekul serta kegunaannya.
Kompetensi Dasar 
Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam bentuk senyawa hidro-karbon dan karboksida.
Indikator 1
Menguji serta menganalisis keberadaan unsur-unsur penyusun senyawa hidrokarbon.
Tujuan Pembelajaran Khusus
1.      Menguji keberadaan unsur-unsur C dan H dalam senyawa hidrokarbon.
2.      Menjelaskan atom karbon dalam membentuk karboksida.
3.      Menganalisis kekhasan atom karbon dalam senyawa hidrokarbon.
4.      Membedakan rantai atom karbon
5.      Membedakan atom C primer, sekunder, tersier dan kuarterner.
Indikator 2
Menjelaskan sifat fisika dan kimia, konsep isomer,  senyawa hidrokarbon kimia dan Tujuan Pembelajaran khusus
1.      Menguji keberadaan unsur-unsur C dan H dalam senyawa hidrokarbon.
2.      Menjelaskan sifat fisika dan kimia senyawa hidrokarbon dengan massa molekul relatif dan strukturnya.
3.      Menjelaskan konsep isomer dan penerapannya pada sifat senyawa hidrokarbon.
4.      Menuliskan reaksi sederhana pada senyawa alkana, alkena dan alkuna (reaksi substitusi dan adisi).
5.      Menjelaskan sumber, kegunaan (manfaat) senyawa hidrokarbon dalam kehidupan
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1.      Dihasilkan perangkat pembelajaran VCD, LKS dan buku pengangan guru  yang dibutuhkan guna membelajarkan konsep-konsep kimia, membangun dan memberdayakan kemampuan berfikir kritis siswa.
2.      Dihasilkan perangkat pembelajaran VCD, LKS dan buku pengangan guru yang dapat menggambarkan konsep-konsep makroskopik, mikroskopik dan simbol-simbol kimia serta keterkaitannya.
3.      Dihasilkan perangkat pembelajaran VCD, LKS dan Buku Pengangan Guru yang sesuai dengan berbagai gaya belajar dan kemampuan berpikir siswa serta menarik bagi siswa.
4.      Dihasilkan perangkat pembelajaran VCD, LKS dan Buku Pegangan Guru yang memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri diluar jam pembelajaran sekolah.
5.      Dihasilkan perangkat pembelajaran VCD, LKS dan Buku Pegangan Guru untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami konsep-konsep kimia, melalui keterlibatan aktif mereka dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa bukan pada guru.




B. Implikasi
1.      Perlu penyempurnaan kembali produk pengembangan berupa perangkat pembelajaran meliputi perangkat pembelajaran elektronik dan non elektronik.
2.       Perlu dilakukan uji coba produk pengembangan berupa perangkat pembelajaran meliputi perangkat elektronik dan elektronik dengan melakukan uji lapangan pada siswa-siswa dan guru-guru mata pelajaran kimia sekolah menengah atas di Bandar Lampung dengan penelitian tindakan kelas dan penelitian eksperimen.
DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2005. Pola Induk Pengembangan Sistem Penilaian. Depdiknas. Jakarta.

Ardhana. Wayan. 1987. Bacaan Pilihan dalam Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dikti.

Corebima.A.D. 2005. Pemberdayaan  Berpikir Siswa Pada Pembelajaran Biologi: Satu penggalakan penelitian payung di jurusan Biologi UM. Seminar Nasional Biologi dan Pembelajarannya-Bio FMIPA UM.

Corebima.A.D. 2006. Pembelajaran Biologi yang Membedayakan Kemampuan Berpikir Siswa. Makalah Disajikan Pada Pelatihan Strategi Metakognitif pada Pembelajaran Biologi untuk Guru-Guru Biologi SMA di Kota Palangkaraya. Tidak Diterbitkan.

Degeng. I Nyoman S. 1997. Strategi Pembelajaran. Mengorganisasi Isi dengan Model Elaborasi Disertai Bahasan tentang Temuan Penelitian. Malang: IKIP Press.

DeMeo. Stephen. 2001. Teaching Chemical Technique. Journal of Chemical Education.www.google.com/journal


Eddy, Roberta M. 2000. Chemophobia in The College Classroom : Extent, source, and student characteristics. Journal of Chemical Education. www.google.com/journal

Goh Ngoh-Khan, Chia Lian-Sai. 2002. Game and Simulation for Teaching Chemistry. New Paradigms for Science Education. Singapore: Pearson Education Asia Pte Ltd. www.google.co.com /education

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar